Apa yang kami paparkan disini adalah hasil pemikiran tim kami yang terdiri dari orang-orang yang ahli di berbagai bidang, wakil dari bergagai kalangan masyarakat, termasuk suara dari masyarakat golongan menangah ke bawah yang merasakan langsung persoalan hidup di kota Bandung.
Visi, Misi dan Program-Program ini bukan milik kami, bukan milik Calon Walikota dan Wakilnya, tapi milik kita semua, masyarakat Bandung. Kami hanya menawarkan satu pemikiran awal. Mari kita perbaiki sama-sama agar Visi, Misi dan Program ini lebih realistis dan menjawab kebutuhan kita bersama.
Kami sangat terbuka untuk menerima masukan-masukan dari masyarakat Bandung.
Hayu BABARENGAN BEBENAH BANDUNG!
PROGRAM-PROGRAM KERJA KHUSUS
Program-program khusus adalah program spesifik yang direncanakan untuk dijalankan yang diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi-solusi persiolan kota Bandung. Program khusus bukan program prioritas, juga bukan-bukan seluruh program yang kami tawarkan. Masih banyak program-program lain yang sudah kami siapkan atau dapat kita pikirkan bersama.
- Pembentukan tim independen pemberantasan korupsi dan pengembangan kreativitas aparatur pemerintah di semua lini.
- Penyediaan sarana penjaminan stok pangan/sembako dan energi.
- Pengembangan 50.000 wirausahawan (entrepreuner)
- Pembuatan KTP gratis dalam rangka pemutakhiran data kependudukan dan asuransi kesehatan.
- Penyelenggaran fasilitas hunian murah bagi kalangan tidak mampu dan pusat pembelajaran bagi anak jalanan/terlantar
- Perlindungan dan pemihakan pada usaha baru, usaha lokal, koperasi, UKM, PKL dan pasar tradisional.
- Dukungan kebijakan dan fasilitas pengembangan Ekonomi Kreatif (termasuk industri kreatif didalamnya).
- Penyediaan sarana dan kegiatan pengembangan seni, budaya, olahraga dan IPTEK.
- Revitalisasi Kota Bandung sebagai pusat negara-negara Asia Afrika.
- Pemanfaatan teknologi informasi untuk transparansi dan efisiensi pelayanan publik.
- Revitalisasi Cikapundung sebagai wajah Bandung.
- Penyampaian laporan kinerja secara rutin kepada publik.
NILAI-NILAI DASAR
Nilai-nilai dasar adalah kumpulan nilai-nilai atau prinsip-prinsip utama yang tidak boleh dilanggar dan selalu menjadi acuan kami dalam menentukan dan menjalankan visi, misi dan program-program kerja. Nilai-Nilai Dasar tersebut adalah:
- Melayani.
- Integritas dan Profesional.
- Transparan dan Akuntabel..
- Adil.
- Inovatif, Terpadu dan Berkelanjutan.
Visi
Terwujudnya Bandung yang Sejahtera, Nyaman & Maju.
Misi
Bandung Sejahtera
- Meningkatkan lapangan kerja dan daya saing ekonomi berbasis potensi lokal.
- Meningkatkan pelayanan dan sarana kesehatan bagi kaum ibu, balita, manula dan orang cacat.
- Memperbaiki iklim usaha dan penyederhanaan perizinan.
- Pengembangan Kewirausahaan (entrepreneuship)
Bandung Nyaman
- Mengubah budaya kerja pelayanan masyarakat dari birokratis menjadi profesional.
- Memperbaiki pelaksanaan dan pengendalian tata guna ruang.
- Membenahi sistem dan prasarana transportasi publik.
- Memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
- Memperbanyak ruang publik untuk peningkatan kualitas hidup.
- Meningkatkan akses dan fasilitas bagi pejalan kaki dan orang cacat.
Bandung Maju
- Menyelenggarakan pendidikan gratis hingga ke tingkat SMU/SMK.
- Meningkatkan kesejahteraan guru.
- Meningkatkan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pendidikan.
- Meningkatkan infrastruktur dan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi.
Mantaps…maju terus. Kami percaya dgn integritas anda berdua. Ayo bikin perubahan. Sip!
Visi Misi cukup Komplit namun kurang menggigit alias terlalu klise.
Bagaimanapun, saya dukung calon independen !!!
Sebagai Alumnus ” Pasundan “, saya dukung untuk maju dalam PILKADA, namun saya sampaikan beberapa point yang mungkin jadi pemenang dalam era Demokrasi :
1. Perbaiki jalan-jalan yang rusak secepatnya, karena bagaimana warga akan mimilih bila seandainya dalam berkendaraan yang dihadapinya ” jalan rusak dan pasti macet ” sehingga akan muncul : umpatan, kesal, cape, boros, dan akhirnya semau gue ……
2. Perbaiki saluran pembuangan air hujan secepatnya, sungai sungai yang dangkal cepat-cepat dikeruk biar airnya tidak meluber ke jalanan, rumah penduduk, dan akhirnya banjir …….bah,
3. Janganlah bermuluk-muluk dengan celoteh ” gratisan “, karena susah sekali untuk direalisasikan, mendingan yang enak-enak dan bisa dinikmati secara ” tiis ceuli herang panon ”
4. Wargi Paguyuban Pasundan khusunya, Insya Allah sangat mendukung, selamat berjuang …….demi cita2 yang ikhlas.
Pa saya yakin bahwa pernah merasakan beratnya biaya sekolah..
tapi yang saya lihat bapa hanya memasukan peningkatan pendidikan pada misi bapak yang notabene masih wacana belaka, ditambah dengan key word yang sangat sering diucapkan calon pemimpin lainnya yaitu “gratisan”. tapi bapak tidak memasukan pada program khusus, hanya pada uk m dan buruh saja!!
mudah”an bila terpilih bisa bersinergi dengan gubernur jabar yang baru!!! rakyat tidak butuh laporan tertulis tapi bukti kongkret!!! amien..
selamat berjuang!!!
terimakasih..
banyak ya janji2nya.. hiks..
yang bandung maju, ouch, pengen sekali..
perlu banyak stakeholder untuk mewujudkannya
tapi tetap semangat ya pa!
Tambahan buat programnya. Berhubung harga minyak akan selalu naik, satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah mengurangi ketergantungan masyarakat Bandung terhadap minyak bumi. Caranya dengan perbaiki sistem trasportasi publik kota Bandung. Ini vital mengingat transportasi publik kota Bandung sangat bergantung pada angkot yang tidak bisa diandalkan. Akibatnya masyarakat cenderung emakai kendaraan pribadi seperti motor atau mobil. Hasilnya jalanan macet pada waktu-waktu tertentu dan polusi kota Bandung semakin tinggi.
Dengan memperbaiki sistem transportasi, Pemerintah kota Bandung dapat memperbaiki dua hal. Kemacetan dan ketergantungan masyarakat terhadap minyak bumi. Jadi, jika suatu ketika di masa depan harga bensin kembali naik – pasti selalu naik – masyarakat kota Bandung tidak mengalami kejutan psikologis. terimia kasih
Menyambung saran dari adit:
1. Tatanan angkutan umum tidak akan bisa berkembang jika tidak dilakukan pembatasan angkutan pribadi secara bersamaan, seperti yang kita sudah lihat pada DKI.
BRT (Bus Rapid Transit) Jakarta baru bisa membuat nyaman pengguna bus kota, belum bisa membuat kebanyakan pengguna mobil pribadi pindah, karena belum ada keberanian pemda DKI membuat kebijakan kenaikan PKB dan tarif parkir secara menyolok.
Padahal dengan PKB dan tarif parkir yang tinggi, pada gilirannya kenaikan PAD dari keduanya bisa dilakukan untuk lebih meningkatkan kinerja BRT.
2. Belajar dari DKI, saya berpendapat bahwa angkot dan bus biasa tidak bisa menjadi tulang punggung angkutan umum. DKI sudah berulang kali mencoba beragam hal berkaitan dengan angkutan umum, dan akhirnya sampai pada solusi angkutan masal (KRL, BRT, monorel, dan MRT) sebagai tulang punggung. Angkot dan bus biasa hanya bisa menjadi angkutan pemasok (feeder) bagi angkutan umum masal tersebut. Untuk Bandung, angkutan umum masal apakah yang akan diusulkan oleh Syin-Ar ?
3. Bandung tiap akhir pekan macet oleh mobil DKI yang berwisata ke Bandung, terutama sejak tol Cipularang dibuka. Bagaimana Syin-Ar menjaga agar arus wisatawan tetap tinggi tanpa akibat sampingan kemacetan lalu lintas.
Kang Syafrudin, terima kasih atas pertanyaan dan komentar-komentarnya yang konstruktif untuk pencarian solusi-solusi. Apa yang akan kami kemukakan disini tentunya bukan solusi akhir, karena menentukan solusi akhir yang implementable perlu kajian dari berbagai sudut pandang yang sangat mendalam.
Sebelum kita sampai pada persoalan transportasi di atas, ada sejumlah persoalan mendasar yang terkait dengan hal tersebut. Solusi terobosan (mis: monorail) bisa tidak efektif jika persoalan mendasarnya dibiarkan. Ada hal-hal yang dasar, tapi penting dan selalu diabaikan: marka jalan, rambu-rambu yang jelas, ketertiban umum, tempat pemberhentian angkot, parkir sembarangan adalah contoh-contoh yang selalu diabaikan. Sebagai contoh, jembatan layang di Bandung akhirnya hanya memindahkan titik macet ke titik lainnya. Persoalan dasar yang dibiarkan tetap menjadi persoalan selamanya.
Untuk langkah awal kami tidak akan menerapkan solusi ekstrim seperti membangun monorail, KRL atau apapun. Persoalan dasar di atas harus diselesaikan dulu. Setelah itu, rute angkot, cara berhenti, skema pembayaran dan sebagainya kami benahi. Saya setuju, jika setelah itu semua dibenahi ternyata masih belum efektif, maka harus ada jalur-jalur utama yang dilayani dengan sarana transportasi yang lebih efektif dan lebih masal.
Parkir adalah salah satu persoalan juga, selain juga menjadi potensi pemasukan. Saya setuju untuk membatasi parkir, karena memfasilitasinya akan menjadi solusi tidak berujung; kendaraan akan naik terus jumlahnya. Menaikan tarif saya kira bukan solusi awal yang akan kami ambil; itu adalah solusi tidak kreatif yang memberatkan masyarakat menengah tapi tidak ada artinya untuk golongan mapan; suatu saat nanti mungkin akan dinaikan juga. Kami cenderung membatasi parkir dengan tegas, terutama parkir di badan-badan jalan. Parkir yang sangat bebas telah menyebabkan semakin tingginya jurang nyata antara si kaya dan si miskin di kampus-kampus dan sekolah-sekolah.
Untuk pertanyaan nomor 3. Ada satu ide yang masih harus dikaji lagi: bus wisata yang hanya dioperasikan pada saat weekend atau hari libur. Suatu bis yang dirancang menarik warnanya, khas kota Bandung, menjadi kebanggan kota Bandung (seperti bis Merah di London). Semua titik penting wisata menjadi tempat transit bis tersebut (restoran, Hotel, FO, tempat2 penting kota Bandung, dll). Parkir seenaknya di badan-badan jalan akan sangat dibatasi. Wisatawan jadi sulit parkir kalau menggunakan kendaraan sendiri, tetapi kita fasilitasi dengan bis tersebut (tentunya angkot juga kita benahi), sehingga mereka semua diharapkan akan beralih ke bis. Tapi sekali lagi, bis ini harus dirancang sangat khas dan istimewa, sehingga akan menjadi kebanggan dan kenikmatan untuk menggunakan bis Bandung tersebut. Bis tersebut diharapkan akan menjadi salah satu ciri khas kota Bandung.
Tentunya semua pemikiran tersebut masih harus dikaji secara mendalam sebelum diterapkan. Terima kasih atas berbagai masukannya Kang!
Boleh tahu masalah-masalah yang menjadi urgensi untuk ditangani dan langkah-langkah apa yang akan dilakukan untuk mengatasinya?
Salam,
Walaupun masih normatif banget, terasa ada niat ‘perubahan’ serta fokus dalam visi misi pasangan calon ini.
Mungkin akan lebih baik ‘menggaet’ anggota tim lain yang lebih ‘lapangan’ supaya makin matang dan memikat stakeholder ber-hak pilih-
Sepengamatan saya, visi misi ini paling matang di antara calon independen lain yang terpublikasi.
Semoga sukses
Tanggapannya cepat dan positif.
Mudah-mudahan apabila diijinkan Allah menerima amanah, tetap bisa sensitif dan cepat tanggap.
Kalau boleh memberi masukan, utamanya ada di misi “Bandung Maju” poin 1. Mudah-mudahan penekanan bukan pada ‘gratis’nya, tetapi pada (content) ‘pendidikan’nya.
Mengingat lagi bahwa program pendidikan ini, kalau tidak salah, sudah diintegrasikan ke program pendidikan pemerintah pusat atau tingkat provinsi, akan lebih baik pemerintah daerah lebih fokus pada pendidikan praktik. Semisal pembentukan pelatihan-pelatihan kerja formal pada bidang-bidang produksi/jasa yang selama ini hanya bisa dipelajari keahliannya melalui apprenticeship informal untuk lebih membangkitkan potensi produk/jasa unggulan daerah agar lebih berkualitas dan bersaing. Minimal menjadi tuan rumah di kota sendiri.
Contohnya pelatihan dan upgrade kualitas produk fashion. Atau contoh lebih grassrootnya ke pelatihan pertukangan jika menilik bahwa proyek-proyek pembangunan fisik di kota Bandung, berpotensi menyerap tenaga kerja padat karya secara lokal urban.
Mudah-mudahan bermanfaat, semoga sukses.
Akang2, tos sae lah programna.
Uninga pribados mah program nomer 12 anu paling utama. Ari nu sanesna tiasa dirunding deui sareng anu berkepentingan.
Naha teu dugi nomer 13?
Tambih hiji deui we atuh, misalna :
13. Membuat program kerja bersama Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat sehingga terasa bahwa walaupun terbagi ke dalam empat wilayah administratif yang berbeda, derap pembangunannya bersinergi.
“The Greater Bandung Harmony: We do have 4 heads but always want to join our heart!’
Salam ti Jakarta
Sangat setuju. Sebetulnya itu sudah jadi pemikiran kami, karena ada berbagai permasalah kota yang solusinya harus dipikirkan bersama, misalnya: masalah lintas wilayah para pekerja, masalah penganggulangan banjir, kemacetan, angkutan kota dan sebagainya.
Terima kasih telah diingatkan bahwa itu adalah sesuatu yang harus ditonjolkan!
Salam kanggo para wargi di Jakarta.
Masalah transportasi kota yang perlu diperhatikan adalah semakin menyempitnya ruang publik (baca : jalan umum) karena banyaknya kendaraan. Jumlah kendaraan yang meningkat memang bisa berarti meningkatnya pertumbuhan ekonomi, namun juga bisa berarti meningkatnya pemborosan energi, meningkatnya polusi udara, menimbulkan macet dan sebagainya.
Setidaknya terdapat tiga hal yang bisa dilakukan yakni, masalah infrastruktur, masalah angkutan umum dan masalah sistem dan manajemen transportasi kota itu sendiri. Namun saya lebih menyoroti tentang angkutan umum (angkot). Persoalan angkutan umum selama ini hanya dilihat dari masalah hilirnya saja, dimana pengemudi angkot suka berhenti sembarangan, tidak mematuhi rambu, mengemudi secara sembarangan dan sebagainya.
Pernah diketahui bahwa hal tersebut merupakan dampak dari kebijakan ‘kejar setoran’ yang dibebankan oleh pengusaha (pemilik) angkot kepada pengemudi. Hal ini tak lain bahwa pengusaha angkot tidak mau rugi dan berharap investasinya segera balik modal. Makanya kita juga kerap mendapi bahwa kondisi fisik angkot yang sudah ‘berumur’ dipaksa untuk beroperasi atau sebaliknya kondisi angkot yang relatif muda tampak sudah ‘berantakan’.
Ini semua berawal dari masalah hulu… dimana pengadaan angkot oleh pengusaha sudah diawali biaya mahal. Perlu diketahui bahwa untuk semua angkutan plat kuning, pemerintah pusat menangguhkan pembayaran pajak. Hal ini dimaksudkan agar ada insentif bagi pengusaha yang masuk di sektor publik dengan pengembalian investasi yang cepat dan menguntungkan. Namun nyatanya pembelian angkot yang dilakukan melalui dealer kendaraan kemudian ditambahkan biaya-biaya lain termasuk ijin trayek dengan biaya yang sangat mahal. Harga angkot tersebut bahkan meningkat lebih dari 100% dari harga yang sesungguhnya.
Insya Allah dibawah pemerintahan walikota independen ini, pengadaan angkot tidak boleh lagi disertai biaya ekonomi yang tinggi. Hal ini hanya bisa dilakukan bila biaya2 lain yang tidak perlu dan bersifat menghambat dihapuskan dan pada akhirnya pengusaha menjadi lebih nyaman, pengemudi tidak usah grusa grusu kerja setoran, penumpang nyaman karena bisa naik angkot dengan waktu yang lebih singkat dan pasti, masyarakat umum lainnya menjadi nyaman dan aman karena jalan tidak lagi dijejali dengan angkot yang ‘ngetem’ sembarangan.
ada dua hal, keduanya saya tulis juga di blog nya pa taufik
keduanya tentang pendidikan.
pertama,
salah satu poin yang saya kira penting tentang pendidikan adalah perhatian pada guru. lebih spesifiknya perhatian pada kebutuhan penghargaan guru. sudah saatnya guru ditempatkan dalam posisi yang lebih baik statusnya di masyarakat. ada artikel yang menarik tentang hal ini. berikut linknya :
http://thinkingoutsidethebox-indonesia.blogspot.com/2008/02/education-is-it-all-about-money.html
kondisi saat ini, banyak tayangan televisi yang mengarahkan opini bahwa guru adalah tokoh yang cerewet dan selalu tertimpa kesialan, dipermainkan murid-muridnya, dan sebagainya. akibatnya, yang saya liat dan rasakan, banyak guru yang mencari caranya sendiri untuk mendapatkan penghormatan dan penghargaan. di salah satu sma yang saya tau, kepala sekolahnya setiap hari memakai nissan x-trail sebagai kendaraan pribadi dan punya rumah di kota baru parahyangan. untuk ukuran kepala sekolah yang gajinya 3 jutaan saya pikir tidak mungkin.
kedua,
bahan masukan aja pa, dari milis itb, basuki suhardiman itung2an sederhana tentang biaya pendidikan gratis.
apbd bandung 2008 itu 1, 7 Trilyun
jumlah penduduk bandung 2,2 juta
jumlah anak sekolah 700.000
biaya perbulan sekolah 100.000
jadi total kebutuhan perbulan :
700.000 x 100.000 = 70 milyar/bulan
kalo pertahun :
70 milyar X 12 = 840 milyar/tahun
ini artinya setengah dari apbd.
kalo seperti ini saya sih melihatnya tidak mungkin. apa bapa merasa ada yang salah dengan itung2an ini? kalo tidak ada yang salah, jadi apakah masih mungkin gratis?
ah ya. terima kasih atas respon dan jawabannya. permintaan saya tinggal satu, kalo pa arman terpilih, tolong blognya tetap dimaintain. karena saya pikir, ini salah satu cara paling efektif warganya berkomunikasi dengan pemimpinnya. tidak seperti sekarang, warganya kebingungan bagaimana menghubungi langsung pemimpinnya. padahal, saya pernah baca, walikota london dan newyork yang supersibuk itu pun masih sempat untuk mengangkat telepon rumahnya. sukses pa!
aa arman, mugi dipaparinan kakiatan. nepangkeun; error2succes.wordpress.com