BANDUNG, Pikiran Rakyat Online, 17 Juni 2008.
Calon independen yang akan maju dalam pemilihan calon Wali Kota (Pilwalkot) Bandung 8 Agustus mendatang, harus mendapat dukungan 3% penduduk Kota Bandung, atau 66.717 orang. Tanpa dukungan sebesar itu, calon independen yang bersangkutan akan gugur.
Untuk calon independen, sudah tercatat ada empat pasangan. Rencananya Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung, hari ini akan menggelar sidang pleno untuk memutuskan siapa saja yang lolos.
Empat pasangan independen yang mengajukan dukungan untuk ikut serta dalam Pemilihan Wali Kota (pilwalkot) Bandung yaitu Hudaya Prawira-Nahadi, Synar Budhi Arta-Arry Akhmad Arman, Achmad Setiawan-Mamat Rachmat, dan Sugih Wiramikarta-Djoni Garyana. Selain empat pasangan yang mengajukan dukungan, calon perseorangan Farhat Abbas-Asep Dedi juga diundang dalam rapat pleno.
Ketua KPU Kota Bandung Benny Moestofa mengungkapkan, jika hasil pleno tidak memuaskan sejumlah pasangan calon independen yang tidak lolos, masing-masing tim dapat mengajukan keberatan dan dapat dibahas secara terbuka. ”Kalaupun ada yang ingin menempuh jalur hukum untuk pembuktian itu, kami siap menghadapinya asalkan melalui mekanisme yang sesuai prosedur,” ujarnya.
Sementara itu, sejumlah parpol masih belum menentukan sikap terkait pasangan calon yang akan diusung. Kepastian pasangan calon wali kota-wakil wali kota yang diusung PKS, juga belum ditentukan hingga Senin (16/6). ”Kami juga menunggu keputusan dari DPP PKS, tetapi sampai saat ini belum juga turun,” kata Ketua MPD PKS Kota Bandung Oded M. Daniel.
Sedangkan Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Bandung Deden Rukman Rumaji, menyatakan dirinya akan menerima masukan dari para ulama terkait dorongan untuk kembali mendukung Dada. ”Masukan itu saya terima dan akan menjadi pembahasan secara mendalam antara saya dengan anggota Koalisi Poros Tengah lainnya malam ini (Senin (16/6),” katanya, ketika dihubungi lewat telefon, Senin (16/6).
Ketua DPD Partai Golkar Kota Bandung Asep Dedi, ketika dihubungi mengatakan, sampai saat ini Poros Tengah belum berpisah dengan Partai Golkar. ”Sebelumnya, karena kesibukan mencari pasangan, komunikasi jadi berkurang,” kata Asep. (A-158/CA-173/A-147)***
Referensi: